Senin, 01 Desember 2014

GUNUNG GAMALAMA DI TERNATE

gunung GAMALAMA di TERNATE 

Ternate menjadi satu kota otonom sejak 4 Agustus 2010, dan menjadi Ibukota sementara Provinsi Maluku Utara sampai Sofifi yang menjadi ibukotanya di Pulau Halmahera siap secara infrastruktur.
Kota Ternate merupakan kota kepulauan yang memiliki luas wilayah 547,736 km², dengan 8 pulau. Pulau Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, Pulau Mayau, dan Pulau Tifure merupakan lima pulau yang berpenduduk, sedangkan terdapat tiga pulau lain seperti Pulau Maka, Pulau Mano dan Pulau Gurida merupakan pulau berukuran kecil yang tidak berpenghuni.
Kondisi topografi Kota Ternate dengan sebagian besar daerah bergunung dan berbukit, terdiri atas pulau vulkanis dan pulau karang dengan kondisi jenis tanah Rogusal ( Pulau Ternate, Pulau Hiri, dan Pulau Moti) dan Rensika (Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Maka, Pulau Mano dan Pulau Gurida). Kondisi topografi Kota Ternate juga ditandai dengan keberagaman ketinggian dan permukaan laut antara 0-700 m dpl. dengan keadaan kota ternate yang merupakan pulau vulkanis membuat ternate menjadi rawan dengan bencana gunung merapi dan dengan keberadaan gunung merapi  gamalama  yang masih akif sampai saat ini yang membuat pemerintahan kota ternate harus bisa membuat upaya untuk mengurangi dampak bencana alam yang di hasilkan oleh letusan gunung merapi gamalama.
dari sejarah meletusnya gunung gamalama, Letusan besar Gunung Gamalama lain terjadi pada 1908 yang menghasilkan leleran lava batu angus hingga ke pantai. Sisa-sisa letusan bisa dilihat di Kelurahan Kulaba, Kecamatan Ternate Utara. Letusan tersebut memakan puluhan korban jiwa.
dan Letusan terbesar lain terjadi pada pada 1775 yang melenyapkan Desa Soela Takomi. Lebih dari 140 orang tercatat tewas. Dahsyatnya letusan juga meninggalkan dua danau, yaitu Tolire Jaha dan Tolire Kecil di Desa Soale Takomi yang berjarak sekira 18 kilometer dari pusat Kota Ternate.
dari hal itu pemerintah kota ternate berupaya untuk dapat mengurangi dampak bencana alam gunung meletus yang nanti akan bisa terjadi.
Dalam upaya mencegah atau meminimalkan potensi dampak masalah akibat bencana Gunung api Gamalama, di masa depan diperlukan perencanaan program-program mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana. Mitigasi ádalah upaya untuk mengeliminasi, menurunkan/meminimalkan risiko bahaya (hazard) bencana pada populasi yang rentan. Lingkup mitigasi meliputi eliminasi risiko, reduksi risiko, dan transmisi tanggung jawab. Fokus mitigasi adalah menghilangkan atau membatasi kemungkinan terjadinya bencana, dan menurunkan tingkat kerentanan populasi. Kesiapsiagaan terhadap potensi bencana adalah satu bentuk upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk merespon efektif ancaman dan dampak bencana dan pulih dengan cepat dari dampak jangka panjang.
Dalam aspek kesiapsiagaan tehadap bencana, partisipasi aktif masyarakat memainkan peran yang paling penting. Pemerintah Kota Ternate dan LSM berkewajiban untuk bersama-sama mendorong dan memperkuat partisipasi masyarakat, termasuk untuk senantiasa menghidupkan memori kolektif sepanjang masa dari pengalaman dramatis dan dahsyat akibat bencana tersebut.
Upaya pencegahan bencana di perkotaan, diutamakan melalui built environment yaitu dalam lingkungan binaan. Pertumbuhan dan pengembangan perlu dilaksanakan dan dikelola dengan prinsip harmoni, seimbang, dan saling menguntungkan antara penduduk Ternate dan lingkungannya. Dengan memperhatikan rencana pemanfaatan ruang (Gambar 4), yang perlu mendapat perhatian dengan segera apabila terjadi letusan dan leleran lava, adalah kawasan pemukiman yang terdapat di sepanjang pantai barat ke selatan sampai ke timur Pulau Ternate, karena pada wilayah tersebut terdapat konsentrasi penduduk yang besar.
Dampak akibat bencana yang traumatis pada penduduk dan lingkungan akibat letusan dan gempa dapat sangat menghancurkan, karena bukan hanya mengakibatkan korban jiwa, material dan kerusakan lingkungan yang besar, tapi juga menguras sumber daya ekonomi yang diperuntukkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya mencegah dan meminimalkan dampak melalui program mitigasi dan kesiapsiagaan sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana seperti di Kota Ternate.
Langkah-langkah awal yang dilakukan adalah mengembangkan alternatif pendekatan-pendekatan mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana yang efektif dan efisien di Kota Ternate, yakni dengan melakukan analisis kebijakan tentang mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana dan survei asesmen infrastruktur dan fasilitas hunian/pemukiman, perkantoran, rumah sakit, fasilitas umum dan lingkungan, berkaitan dengan sistem pengamanan dan peringatan dini potensi bahaya bencana akibat aktivitas Gunung api Gamalama.
Upaya penanggulangan bencana letusan gunung api tersebut, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.
1. Sebelum terjadi letusan:
·         Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada aktivitas gunung api,
·         Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunung api yang didukung dengan dengan Peta Geologi Gunung api,
·         Pembimbingan dan pemberian informasi gunung api,
·         Penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunung api,
·         Peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya seperti peningkatan sarana dan prasarananya.
2. Saat terjadi letusan dilakukan:
·         Peringatan dini.
·         Pelaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunung api,
·         Pelaksanaan evakuasi penduduk ke tempat-tempat aman yang telah disiapkan sebelumnya,
3. Setelah terjadi letusan dilakukan:
·         Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan,
·         Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya,
·         Memberikan saran penanggulangan bahaya,
·         Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang,
·         Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak,
·         Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun,
·         Melanjutkan memantauan rutin.
Bilamana terjadi peningkatan aktivitas gunung api, maka prosedur tetap tingkat kegiatan gunung api adalah sebagai berikut :
1.      Aktif Normal (Level I): Kegiatan gunung api berdasarkan pengamatan dari hasil visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan.
2.      Waspada (Level II): Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.
3.      Siaga (Level III): Peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual/pemeriksaan kawah, kegempaan dan metoda lain saling mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan cenderung diikuti letusan.
4.      Awas (Level IV): Menjelang letusan utama, letusan awal mulai terjadi berupa abu/asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti letusan utama
 
*SUMBER REFRENSI
http://www.antaramaluku.com/print/22759/melihat-upaya-ternate-mengurangi-dampak-bencana
http://regional.kompas.com/read/2011/12/11/20025436/Gunung.Gamalama.Kembali.Meletus
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Ternate
http://www.mentari.biz/daftar-gunung-berapi-yang-aktif-di-indonesia.html
http://news.okezone.com/read/2011/12/08/340/539821/ini-sejarah-letusan-gunung-gamalama
http://iphect.blogspot.com/2012/05/potensi-dan-bahaya-letusan-gunung.html
 
 
 

Minggu, 23 November 2014

JAWABAN KPLI 010 NO.10 "Lagu tentang pemanasan global"

"Earth Song"
(Michael Jackson)
What about sunrise
What about rain
What about all the things
That you said we were to gain...
What about killing fields
Is there a time
What about all the things
That you said was yours and mine...
Did you ever stop to notice
All the blood we've shed before
Did you ever stop to notice
This crying Earth, this weeping shore?

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

What have we’ve done to the world
Look what we've done
What about all the peace
That you pledge your only son...
What about flowering fields
Is there a time
What about all the dreams
That you said was yours and mine...
Did you ever stop to notice
All the children dead from war
Did you ever stop to notice
This crying Earth, this weeping shore?

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

I used to dream
I used to glance beyond the stars
Now I don't know where we are
Although I know we've drifted far

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

Hey, what about yesterday
(What about us)
What about the seas
(What about us)
The heavens are falling down
(What about us)
I can't even breathe
(What about us)
What about apathy
(What about us)
I need you
(What about us)
What about nature's worth
(ooo, ooo)
It's our planet's womb
(What about us)
What about animals
(What about it)
Turned kingdoms to dust
(What about us)
What about elephants
(What about us)
Have we lost their trust
(What about us)
What about crying whales
(What about us)
Ravaging the seas
(What about us)
What about forest trails
(ooo, ooo)
Burnt despite our pleas
(What about us)
What about the holy land
(What about it)
Torn apart by creed
(What about us)
What about the common man
(What about us)
Can't we set him free
(What about us)
What about children dying
(What about us)
Can't you hear them cry
(What about us)
Where did we go wrong
(ooo, ooo)
Someone tell me why
(What about us)
What about baby boy
(What about it)
What about the days
(What about us)
What about all their joy
(What about us)
What about the man
(What about us)
What about the crying man
(What about us)
What about Abraham
(What about us)
What about death again
(ooo, ooo)
Do we give a damn

Aaaaaaaaah Oooooooooh
"Lagu Bumi"
(Michael Jackson)

Bagaimana dengan mentari terbit
Bagaimana dengan hujan 
Bagaimana dengan semua hal
Yang kau bilang harus kita dapatkan... 

Bagaimana dengan medan pembunuhan 
Adakah waktu
Bagaimana dengan semua hal 

Yang kau bilang milikmu dan milikku...
Pernahkah kau sejenak memperhatikan
Darah yang tlah kita tumpahkan sebelumnya 

Pernahkah kau sejenak memperhatikan
Bumi yang menangis pantai yang meratap?

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

Apa yang tlah kita lakukan pada dunia ini
Lihatlah apa yang telah kita lakukan 
Bagaimana dengan semua kedamaian
Yang kau janjikan pada putramu satu-satunya... 
Bagaimana dengan padang-padang bunga
Adakah waktu 
Bagaimana dengan semua mimpi
Yang kau bilang milikmu dan milikku...
Pernahkah kau sejenak memperhatikan
Semua anak kecil yang mati karena perang 
Pernahkah sejenak kau memperhatikan
Bumi yang menangis pantai yang meratap

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh


Dulu aku sering bermimpi
Dulu aku sering manatap bintang-bintang 
Kini aku tak tahu lagi di mana kita berada 
Meskipun aku tahu kita tlah hanyut jauh

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

Hei, bagaimana dengan kemarin
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan lautan
(Bagaimana dengan kita)
Langit sedang runtuh
(Bagaimana dengan kita)
Aku tak dapat bernafas
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan Bumi yang terluka
(Bagaimana dengan kita)
Tak bisakah kita rasakan lukanya
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan alam yang begitu berharga
(ooo, ooo)
Ini adalah rahim planet kita
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan binatang
(Bagaimana dengannya) 
Kita tlah mengubah kerajaan menjadi debu
(Bagaimana dengan kita) 
Bagaimana dengan gajah-gajah
(Bagaimana dengan kita)
Apakah kita tlah kehilangan kepercayaan mereka
(Bagaimana dengan kita) 
Bagaimana dengan paus-paus yang menangis
(Bagaimana dengan kita)
Kita merusak lautan
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan jejak hutan
(ooo, ooo)
Terbakar meski kita membelanya
(Bagaimana dengan kita) 
Bagaimana dengan tanah suci
(Bagaimana dengannya)
Runtuh karena kredo
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan rakyat jelata
(Bagaimana dengan kita)
Tak bisakah kita membebaskannya
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan anak-anak yang sekarat
(Bagaimana dengan kita)
Tak bisakah kau dengar tangisan mereka
(Bagaimana dengan kita)
Di manakah kesalahan kita
(ooo, ooo)
Seseorang memberitahuku sebabnya
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan bayi-bayi
(Bagaimana)
Bagaimana dengan hari-hari
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan kebahagiaan mereka
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan pria itu
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan pria yang menangis itu
(Bagaimana dengan kita)
Bagaimana dengan Ibrahim
(Siapakah dulu kita)
Bagaimana dengan kematian lagi
(ooo, ooo)
Apakah kita tertarik

Aaaaaaaaah Oooooooooh


JAWABAN KPLI 010 NO.9 "Pendapat mengenai studi kasus "Apa yang harus dilakukan Indonesia untuk beradaptasi dengan dampak ekstrim pemanasan global ? ""

Indonesien als ein Land, deren Leben stark von natürlichen Ressourcen, ist der richtige Weg, um die Auswirkungen der globalen Erwärmung anzugehen, sich anzupassen. Anpassungsfähigkeit muss von den Regierungen und Umweltorganisationen unterstützt werden, das Wissen der Öffentlichkeit über die Auswirkungen der globalen Erwärmung zu schaffen, vor allem mit verschiedenen Akteuren auf lokaler Ebene als gefährdet betroffen. Dafür ist eine Sache, die nicht übersehen werden sollte die Bedeutung der Einbeziehung der Öffentlichkeit in die Nähe der Umsetzung von Anpassungsstrategien in die lokalen Gemeinschaften. Passen Sie angesichts des Klimawandels, sowohl in Bezug auf die Wirtschaftstätigkeit, sondern vor allem im Hinblick auf die Politikgestaltung mit dem Klimawandel.

Indonesia sebagai negara yang hidupnya sangat bergantung pada sumber daya alam, cara yang tepat dalam mengatasi dampak pemanasan global adalah dengan beradaptasi. Kemampuan adaptasi perlu didukung oleh pemerintah dan organisasi lingkungan, dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai berbagai dampak pemanasan global tersebut, terutama  mengikutsertakan berbagai pihak di tingkat lokal sebagai pihak yang rentan terkena dampaknya. Untuk itu, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah pentingnya melibatkan masyarakat di sekitar lokasi dalam pelaksanaan strategi adaptasi ke masyarakat lokal. Beradaptasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim, baik dari segi kegiatan ekonomi, namun khususnya dalam hal pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan perubahan iklim.  

JAWAABAN KPLI 010 NO.8 "Pendapat menegenai studi kasus "Damapak pemanasan global yang tak bisa diperbaiki""

The impact of global warming that can not be repaired is the melting of ice at the south pole and the north pole which has led to high sea water be making many coastal started swept waves and difficult to refine pencangkar is because of the many buildings that use the glass ceiling as the walls which causes the lining ozone depleting and global warming are getting worse.

Dampak pemanasan global yang tidak bisa di perbaiki adalah mencairnya es di kutub selatan dan kutub utara yang sudah menyebabkan tingginya air laut yang memebuat banyak pesisir pantai mulai tersapu ombak dan yang sulit di perbaiki adalah karena banyaknya gedung pencangkar langit yang menggunakan kaca sebagai temboknya yang menyebabkan lapisan ozon menipis dan membuat pemanasan global yang semakin parah.

JAWABAN KPLI 010 NO.7 "Alternatif mengantisispasi dampak kenaikan muka air laut"

Pagpapaunlad ng paglilinang lugar sa mga lugar sa baybayin dapat gawin sa pamamagitan ng isinasaalang-alang ang ilang mga alternatibo inirerekumenda ng mga IPCC tulad ng sumusunod: Pagpapalit ng Tirahan, alternatibong ito ay binuo kapag ang pang-ekonomiya at kapaligiran epekto dahil sa antas ng dagat pagtaas at pagbaha kaya mahusay na kailangan nilinang lugar na Nilipat higit pa ang layo mula sa baybay-dagat. Sa matinding mga kondisyon, kahit na ituring upang maiwasan sa lahat ng mga lugar na mayroong napakataas na kahinaan. Accommodation, alternatibong ito ay natural na pagbabago o pagsasaayos sa panganib ng epekto na maaaring mangyari tulad ng pagbawi, ang pagtatag ng elevation o mga pagbabago sa agrikultura sa maalat-alat na tubig pagsasaka (Aquaculture). Inundated lugar ay hindi maiwasan, ngunit hindi inaasahan na magdulot ng seryosong banta sa kaligtasan ng buhay, ari-arian at socio-pang-ekonomiya na gawain at sa kapaligiran. Proteksiyon, alternatibong ito ay may dalawang mga posibilidad, lalo na mahirap na istraktura, tulad ng pagtatayo ng napananatili ang wave (dalahikan) o Dam (seawalls) at iyon ay malambot na istraktura, tulad ng mangrove revegetation o pag-iimpon ng buhangin (beach pagpapakain). Bagama't may posibilidad pagtatanggol laban sa natural na mga pagbabago, kailangang gawin nang maingat sa pamamagitan ng isinasaalang-alang ang mga natural na proseso na nagaganap alinsunod sa mga prinsipyo ng "pakikipagtulungan sa kalikasan" alternatibong ito.

 

Pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang direkomendasikan oleh IPCC sebagai berikut: Relokasi, alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan perlu dipertimbangkan untuk menghindari sama sekali kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi.  Akomodasi, alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture). Area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, aset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar. Proteksi,  alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure, seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure, seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature”.